Banten  

Pemkab Tangerang Perkuat Mitigasi Sektor Pertanian: Pastikan Produksi Padi di Tengah Musim Kemarau

KANALTANGERANG.COM, TANGERANG – Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) terus memperkuat langkah mitigasi musim kemarau guna memastikan produksi gabah di Kabupaten Tangerang tetap tersedia. Berbagai upaya dilakukan di antaranya melaksanakan sinergitas stakeholder seperti Kementerian Pertanian RI, Dinas Pertanian Provinsi Banten, Perguruan Tinggi dan instansi terkait.

Selain itu menyalurkan bantuan traktor, pompa air, pemanfaaatan sumber air alternatif, penggunaan varietas padi terhadap kondisi kering serta pendampingan penyuluh pertanian Kementerian Pertanian.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang, Dr. Ir. H. Ujang Sudiartono, S.T., M.T. menjelaskan upaya Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam mengatasi dampak kekeringan melakukan mitigasi bantuan alat produksi pertanian (Alsintan) serta sarana produksi pertanian (Saprodi) kepada sejumlah Kelompok Tani (Poktan).

Pemkab Tangerang juga melakukan kolaborasi bersama dengan SGU, Syngenta Indonesia dan BRIN yang sedang berjalan saat ini sebagai salah satu alternatif pola tanam untuk meningkatkan produktivitas padi yang bisa di lakukan oleh kelompok tani.

Baca Juga:  3 Bulan Operasional Dihentikan, Pekerja Minta Bupati Tangerang Buka Lagi PT SLI di Balaraja

“Untuk tahun 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang telah menyalurkan bantuan sarana produksi pertanian yang bersumber dari APBD, APBN/Provinsi kepada Poktan. Penyaluran bantuan ini sebagai nitigasi kekeringan dalam mendukung peningkatan produktivitas padi tetap terjaga di Kabupaten Tangerang,” tegas Ujang.

Sarana produksi pertanian yang telah disalurkan pada tahun 2026 di antaranya yaitu; alat produksi pertanian berupa traktor roda 2 sebanyak 44 unit, cultivator 14 unit, power threser, pompa air 75 unit, handsprayer 88 unit, pupuk NPK 25.825 kg, kompos 20.500 kg, organik 530.000 kg, pupuk organik cair 90 liter, benih padi 86.900 kg.

Selain itu, DPKP Kabupaten Tangerang juga menyalurkan bantuan irigasi perpompaan (IRPOM) sebanyak 26 unit. IRPOM merupakan sistem pengairan lahan pertanian yang menggunakan mesin pompa air seperti tenaga surya, diesel atau listrik untuk menarik air dari sumbernya dan mengalirkannya ke area persawahan.

Baca Juga:  Bupati Tangerang dan Danrem 052/WKR Buka Persami KKRI 2026

“IRPOM ini sebagai salah satu intervensi Pemerintah Daerah, Kementerian Pertanian RI melalui Kelompok Tani untuk membantu penyediaan air dan mengurangi resiko gagal panen akibat kekeringan, mempermudah akses air yang jaraknya cukup jauh dari lahan pertanian,” Jelas Ujang.

Bantuan lain untuk penyediaan untuk petani yaitu Irigasi Perpompaan (IRPIP) sebanyak 6 unit, IRPIP ini untuk mengalirkan air kelahan pertanian tanpa menggunakan pompa. Selan itu ada bantuan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) sebanyak 22 unit pada tahun 2025, JIAT ini merupakan sistem pengairan yang memanfaatkan air dibawah permukaan tanah melalui sumur bor.

“Kami juga memberikan Sumur Pantek sebanyak 4 unit, sumur Pantek berfungsi sebagai mengairi sawah di daerah yang sulit dijangkau irigasi permukaan atau saat musim kemerau. Dinas Pertanian juga memberikan bantuan sumur bor di beberapa titik lahan pertanian sebanyak 2 unit serta melakukan rehab jaringan irigasi tersier di 23 lokasi,” ucapnya.

Menurut dia, dalam upaya meningkatkan produktivitas dan mendukung swasembada pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang memberikan bantuan benih padi dari UPTD Balai Benih kepada Kelompok Tani sebanyak 3,6 ton.

Baca Juga:  Gegana Periksa Kotak Mencurigakan yang Gegerkan Warga di Pasar Kemis

“Bantuan sarana produksi pertanian baik alsintan, saprodi, pupuk dan bantuan benih merupakan langkah-langkah mitigasi kekeringan pada sektor pertanian oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang, Pemerintah Provinsi Banten dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia dalam upaya teknis, infrakstruktur, hingga penyesuaian pola tanam untuk menjaga produktivitas di saat musim kemerau ini,” tegas Ujang yang sebelumnya menjabat Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang.

Terkait wilayah yang terdampak kekeringan berdasarkan data di akhir bulan September 2026, terjadi di 17 Kecamatan, 53 desa dengan luas 667,05 ha, puso 340 ha, pulih 85 ha, panen 73 ha dan terancam 230 ha.

“Penyebab akibat tidak ada hujan, tidak ada sumber air, terdampak sumber air tapi sudah mulai kering, ada sumber air tapi jauh dari lokasi kejadian,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *