KANALTANGERANG.COM, LEBAK – SMAN 1 Panggarangan kembali menegaskan posisinya sebagai sekolah pelopor mitigasi bencana di Provinsi Banten melalui pelaksanaan kegiatan sharing session dan evaluasi implementasi Earthquake Early Warning and Response System (EEWS) yang telah terpasang sejak Agustus 2025. Kegiatan ini mempertemukan para pakar kebencanaan nasional dan internasional dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan sekolah menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami, Jumat (1/5/2026).
Kegiatan evaluasi ini dihadiri oleh Prof. Aiko Sakurai dan Dr. Mizan Bustanul Fuady Bisri dari Kobe University, Dr. Nuraini Rahma Hanifa dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), teknisi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta dosen praktisi kebencanaan dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Program ini juga merupakan bagian dari sinergi multipihak yang melibatkan Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam penguatan sistem mitigasi bencana berbasis sekolah.
Evaluasi Teknis EEWS: Sistem Berjalan Stabil dan Responsif
Dalam sesi evaluasi teknis, tim BMKG memaparkan hasil pemantauan terhadap performa sistem EEWS selama masa operasional.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem bekerja secara optimal dengan indikator utama sebagai berikut:
Kecepatan respons tinggi, dengan pengiriman sinyal peringatan dari server pusat BMKG ke perangkat alarm sekolah berlangsung dalam waktu kurang dari 10 detik setelah gelombang gempa terdeteksi.
Perangkat terkalibrasi baik, sehingga sensor dan sirene mampu berfungsi sesuai standar operasional.
Integrasi jaringan berjalan stabil, tanpa gangguan teknis yang signifikan sejak pemasangan.
Evaluasi ini menegaskan bahwa keberadaan EEWS di SMAN 1 Panggarangan telah memenuhi standar kesiapsiagaan teknologi mitigasi bencana berbasis sekolah.
Pembelajaran dari Jepang: Pentingnya Kesiapan Mental
Selain evaluasi teknis, para pakar juga memberikan penguatan edukatif terkait budaya kesiapsiagaan bencana.
Dr. Nuraini Rahma Hanifa mengapresiasi komitmen SMAN 1 Panggarangan sebagai sekolah yang konsisten mengembangkan ekosistem mitigasi bencana secara berkelanjutan.
Sementara itu, Prof. Aiko Sakurai menekankan pentingnya mengintegrasikan teknologi dengan kesiapan mental melalui konsep Tsunami Tendenko, sebuah pendekatan mitigasi dari Jepang yang menekankan bahwa saat peringatan tsunami terjadi, setiap individu harus segera menyelamatkan diri menuju tempat aman tanpa menunggu instruksi pihak lain.
Menurutnya, teknologi peringatan dini hanya akan efektif apabila diimbangi dengan budaya respons cepat dan kemandirian dalam pengambilan keputusan saat situasi darurat.
Kepala Sekolah: Komitmen Mencetak Generasi Tangguh Bencana
Kepala SMAN 1 Panggarangan, Cahya Irawan, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya sebagai bagian dari proyek kolaborasi mitigasi bencana berskala internasional.
“Kami sangat bangga dan bersyukur SMAN 1 Panggarangan dipercaya menjadi bagian dari kolaborasi penting ini. Keberadaan sistem EEWS dan pendampingan para pakar memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga bagi warga sekolah. Melalui Gugus Mitigasi Bencana dan Ekstrakurikuler Mitigasi Bencana, kami berkomitmen mencetak generasi yang memiliki kesiapan pengetahuan, keterampilan, dan mental dalam menghadapi bencana,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa wawasan mitigasi akan terus diintegrasikan dalam kultur akademik sekolah sebagai bagian dari pendidikan karakter dan keselamatan.
Satu-satunya Ekstrakurikuler Mitigasi Bencana Aktif di Banten
SMAN 1 Panggarangan saat ini tercatat sebagai sekolah dengan ekstrakurikuler mitigasi bencana aktif pertama dan satu-satunya di Provinsi Banten yang menerapkan tiga pilar utama kesiapsiagaan:
Siaga: Mempersiapkan informasi, perangkat, dan sistem peringatan dini.
Selamat: Melaksanakan prosedur penyelamatan seperti Drop, Cover, Hold On.
Sintas: Membangun kemampuan bertahan dan melakukan evakuasi secara efektif.
Program ini didukung penuh oleh jajaran tenaga pendidik, termasuk Wakil Kepala Sekolah, Ketua Gugus Mitigasi Bencana, pembina ekstrakurikuler, serta guru fasilitator yang aktif melakukan pendampingan.
Simulasi Evakuasi Jadi Bukti Kesiapan Nyata
Puncak kegiatan ditandai dengan simulasi evakuasi darurat yang diikuti siswa anggota ekstrakurikuler mitigasi bencana.
Saat alarm EEWS berbunyi, para siswa secara sigap mempraktikkan prosedur keselamatan dan bergerak teratur menuju titik evakuasi. Simulasi berlangsung tertib dan menunjukkan tingkat kesiapsiagaan yang semakin matang.
Kolaborasi antara BMKG, BRIN, JICA, Kobe University, dan UMN bersama SMAN 1 Panggarangan ini diharapkan dapat menjadi model percontohan nasional bagi sekolah-sekolah di kawasan rawan gempa dan tsunami, khususnya wilayah pesisir Banten.
Dengan sinergi teknologi, edukasi, dan komitmen kelembagaan, SMAN 1 Panggarangan membuktikan bahwa sekolah dapat menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
